Keteguhan Para Sahabat Pada Masa Awal Dakwah Secara Sembunyi-Sembunyi (Bag. 2)
Pada artikel sebelumnya, kita telah membahas beberapa kisah keteguhan para sahabat pada awal masa dakwah sirriyyah. Pada bagian kedua ini, kita akan melanjutkan kisah Abu Dzar al-Ghifari dan Khalid bin Sa’id radhiyallahu ‘anhuma, dua sahabat yang menunjukkan keberanian dan keteguhan setelah menerima Islam. Selain itu, kita juga akan melihat perkembangan syariat salat serta sikap masyarakat Quraisy terhadap dakwah Rasulullah ﷺ yang mulai tersebar.
Keberanian Abu Dzar menyatakan keislamannya
Abu Dzar al-Ghifari (أبو ذر الغفاري) juga termasuk ke dalam jajaran as-sabiqunal awwalun. Ia berasal dari kalangan Arab badui. Ia juga orang yang fasih berbahasa Arab dan manis tutur katanya.
Ketika berita tentang diutusnya Rasulullah ﷺ sampai kepadanya, Abu Dzar mengutus saudaranya ke Makkah untuk mencari informasi tentang beliau. Ia memintanya mendengarkan ucapan Rasulullah ﷺ, kemudian kembali untuk menyampaikan kabar kepadanya. Setelah melakukan apa yang diperintahkan oleh Abu Dzar, ia menceritakan apa yang ditemuinya. Saudaranya mengatakan bahwa orang tersebut memerintahkan akhlak-akhlak mulia dan menyampaikan perkataan yang bukan syair.
Mendengar perkataan saudaranya tersebut, Abu Dzar belum puas. Akhirnya, Abu Dzar sendiri yang akan menelusuri dan mencari Nabi tersebut. Ia menyiapkan bekal untuk pergi ke Makkah. Setelah tiba di Makkah, Abu Dzar mendatangi Masjidil Haram dan mencari beliau ﷺ. Namun masalahnya, Abu Dzar belum mengenal Rasulullah ﷺ. Ia juga tidak suka menanyakan tentang beliau lantaran mengetahui kebencian Quraisy terhadap siapa pun yang berhubungan dengan Rasulullah ﷺ.
Malam pun tiba. Ali bin Abi Thalib melihat Abu Dzar. Ia mengetahui bahwa Abu Dzar adalah orang asing. Ali pun mengajak Abu Dzar ke rumahnya dan menjamunya. Tidak ada seorang pun dari keduanya yang bertanya kepada yang lain tentang apa pun hingga berlalu tiga hari. Setelah berlalu tiga hari, Ali berkata kepada Abu Dzar, “Tidakkah kamu mau menceritakan kepadaku apa yang membuatmu datang ke sini?”
Abu Dzar menjawab, “Kalau kamu berjanji dan berikrar akan membimbingku, aku akan melakukannya.”
Ali pun berjanji, sehingga Abu Dzar pun menceritakan maksud kedatangannya. Setelah mendengar penjelasan Abu Dzar, Ali berkata, “Sesungguhnya itu adalah kebenaran. Beliau adalah Rasulullah.”
Kemudian Ali meminta Abu Dzar untuk mengikutinya besok pagi. Jika Ali melihat sesuatu yang dikhawatirkan membahayakan Abu Dzar, maka Ali akan berisyarat berdiri seolah-olah sedang buang air kecil. Jika Ali terus berjalan, maka Abu Dzar diminta untuk terus mengikutinya sampai ia ikut masuk ke tempat di mana Ali masuk.
Abu Dzar pun melakukannya. Ia terus mengikuti Ali sampai Ali masuk menemui Nabi Muhammad ﷺ. Abu Dzar mendengarkan sabda beliau dan langsung masuk Islam di tempat itu. Nabi Muhammad ﷺ memerintahkan Abu Dzar untuk kembali kepada kaumnya dan berdakwah kepada mereka sampai datang perintah beliau kepadanya.
Abu Dzar berkata, “Demi Zat yang jiwaku berada di tangan-Nya, sungguh aku akan menyatakan keislamanku dengan lantang di tengah-tengah mereka.”
Abu Dzar kemudian keluar dan mendatangi Masjidil Haram, lalu berseru dengan suara paling lantang, “Aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Allah, dan bahwa Muhammad adalah utusan Allah.”
Mendengar perkataan Abu Dzar tersebut, orang-orang bangkit dan memukulinya hingga Abu Dzar terjatuh. Al-’Abbas datang, lalu menelungkupkan tubuhnya di atas Abu Dzar untuk melindunginya. Al-’Abbas berkata, “Celakalah kalian! Bukankah kalian tahu bahwa ia berasal dari Ghifar? Dan bahwa jalur perdagangan kalian menuju Syam melewati daerah mereka?” Maka Al-’Abbas menyelamatkan Abu Dzar dari mereka. Kisah ini diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim.
Baca juga: Ketabahan Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam
Keteguhan Khalid bin Sa’id menghadapi ayahnya
Di antara as-sabiqunal awwalun adalah Khalid bin Sa’id bin Al-’Ash bin Umayyah (خالد بن سعيد بن العاص بن أمية). Ayahnya adalah pemuka Quraisy yang sangat dihormati.
Diriwayatkan bahwa Khalid pernah bermimpi dirinya akan jatuh ke jurang yang dalam. Kemudian Rasulullah ﷺ datang menyelamatkannya dari jurang tersebut. Setelah terbangun dari tidurnya, Khalid mendatangi Rasulullah ﷺ dan berkata, “Kepada apa engkau menyeru, wahai Muhammad?”
Rasulullah ﷺ menjawab, “Aku menyerumu untuk menyembah Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya; agar engkau meninggalkan penyembahan kepada batu yang tidak mendengar, tidak melihat, tidak memberi mudarat, dan tidak memberi manfaat; agar engkau berbuat baik kepada kedua orang tuamu; agar engkau tidak membunuh anakmu karena takut miskin; agar engkau tidak mendekati perbuatan keji, baik yang tampak maupun tersembunyi; agar engkau tidak membunuh jiwa yang Allah haramkan kecuali dengan alasan yang benar; agar engkau tidak mendekati harta anak yatim kecuali dengan cara yang paling baik hingga ia mencapai usia matang; agar engkau menyempurnakan takaran dan timbangan dengan adil; agar engkau berlaku adil dalam ucapanmu, meskipun engkau harus memberi keputusan terhadap kerabat dekatmu; dan agar engkau memenuhi janji kepada orang yang telah engkau ikat perjanjian dengannya.”
Khalid bin Sa’id pun masuk Islam. Ketika ayahnya mengetahui bahwa Khalid bin Sa’id telah masuk Islam, ayahnya marah kepadanya dan menyakitinya. Bahkan ayahnya juga menahan makanan darinya. Khalid kemudian meninggalkan rumah ayahnya, mendatangi Rasulullah ﷺ, dan senantiasa bersama beliau di sekitar Makkah.
Salat dan wudu pada masa dakwah sirriyyah
Selain bertambahnya orang-orang yang masuk Islam, masa dakwah sirriyyah juga menjadi masa awal pembinaan ibadah dan keimanan kaum muslimin. Salat termasuk ibadah yang telah disyariatkan pada masa dakwah sirriyyah. Akan tetapi, para ulama berbeda pendapat terkait jumlah rakaat dan waktu pelaksanaannya di masa dakwah secara sembunyi-sembunyi. Sebagian ulama berpendapat bahwa pada masa itu, kaum muslimin diwajibkan salat pada pagi hari sebelum matahari terbit dan sore hari sebelum matahari terbenam. Adapun kewajiban salat lima waktu dengan tata cara yang dikenal sekarang baru ditetapkan pada peristiwa Isra’ dan Mi’raj.
Diriwayatkan pula bahwa Jibril mengajarkan tata cara wudu kepada Rasulullah ﷺ pada masa awal kenabian.
Ibnu Hisyam menjelaskan bahwa apabila waktu salat telah tiba, Rasulullah ﷺ dan para sahabatnya pergi ke celah-celah bukit lalu menyembunyikan salat mereka dari kaumnya.
Sikap awal Quraisy terhadap dakwah Rasulullah ﷺ
Meskipun dakwah Rasulullah ﷺ masih bersifat rahasia dan perorangan, tampaknya beritanya telah sampai kepada kaum musyrikin Quraisy. Hanya saja, mereka belum terlalu mempedulikannya.
Muhammad al-Ghazali menjelaskan, “Barangkali mereka mengira Muhammad hanyalah salah satu dari orang-orang yang memiliki kecenderungan beragama, yang berbicara tentang ketuhanan dan hak-hak-Nya, sebagaimana dilakukan oleh Umayyah bin Abi Shalt (أمية بن أبي الصلت), Quss bin Sa’idah (قس بن ساعدة), dan ‘Amr bin Nufail (عمرو بن نفيل). Hanya saja, Quraisy mulai merasa khawatir terhadap tersebarnya berita tentang beliau dan meluasnya pengaruh beliau. Maka mereka pun mulai mengamati dari waktu ke waktu bagaimana akhir nasib beliau dan dakwahnya.”
Demikianlah sebagian gambaran dakwah Islam pada masa sirriyyah. Abu Dzar menunjukkan keberanian dalam menyatakan keimanan di hadapan Quraisy, sedangkan Khalid bin Sa’id memilih mempertahankan Islam meskipun harus menghadapi penentangan ayahnya. Pada masa yang sama, Rasulullah ﷺ membina kaum muslimin dengan ibadah dan wahyu, sementara kaum Quraisy mulai mengamati perkembangan dakwah yang semula mereka anggap remeh. Benih-benih keimanan yang tumbuh secara tersembunyi itu kelak berkembang menjadi kekuatan yang tidak lagi dapat diabaikan. Wallahu a’lam.
[Selesai]
***
Penulis: Fajar Rianto
Artikel Muslim.or.id
Referensi:
Nūr Al-Yaqīn fī Sīrah Sayyid Al-Mursalīn, karya Muhammad Al-Khudhari.
Ar-Rahīq Al-Makhtūm, karya Shafiyurrahmān Al-Mubārakfūri.
Artikel asli: https://muslim.or.id/114618-keteguhan-para-sahabat-pada-masa-awal-dakwah-secara-sembunyi-sembunyi-bag-2.html